Metropolitan lawan Daerah terpencil dalam UN

Jika pemerintah ingin mayamakan standar nilai antara kota metropolitan dan daerah yang sangat terpencil apa bisa kira-kira? Pasti rata-rata pembaca blog disini mengatakan tidak dengan berbagai alasan.
UN untuk tingkat SMA sederajat baru saja telah selesei dilaksanakan.Pemerinta dengan berbagai macam cara pemerintah membuat soal agar tingkat kebocoran seminimal mungkin. Dari mulai Penjagaan tingkat kabupaten sampai kecamatan, dan pengawasan ekstra ketat. Terus dalam satu ruangan ada 5 soal paket  yang berbeda? Pokoknya berlapis-lapis kayak jaga harta karun . .he he he he he



Yang masih jadi pertanyaan saya pemerintah ingin menyamakan nilai dari kota metro samapai daerah terpencil, terus apa yang terjadi, yang jelas tingkat kecurangan sangat tinggi itu pasti. Kita tidak usah tutup mata  semua pihak gak berani tanggung resiko dengan kelulusan sangat banyak. Terus hasil UN antara kota metropolitan dan daerah terpencil hampir seimbang.

Memang pada dasarnya kalau kurikulum sudah sama, pendidik sama, tapi saran penunjang belajar,  dari mulai ruang belajar, buku, apalagi sarana internet ( ma'af  ada yang belum pernah pegang komputer) dan semuanya tidak bisa disamakan. Jika tingakat kabupaten masih bisa disamakan, kalau daerah terpencil ????

Menurut saya dan rekan-rekan yang benar-benar bahwa siswa itu lulus atau tidak adalah pada waktu Try Out, Kenapa? ya karena try out merupakan nilai sesungguhnya tanpa ada campur tangan pihak2 tertentu.

Bahkan saya baca-baca hasil try out dikota-kota besar di jawa juga jelek, hampir imbang dikabupaten tempat saya. jadi anda bisa menganalisa sendiri, karena dalam rentang waktu sangat sedikit untuk memforsir belajar sangat tidak mungkin. Itu membutuhkan waktu lama.

Mungkin ini dulu yang sempat saya tulis, mungkin berkutnya berjudul Apa perlu ada UN
sekian terima kasih
Tag : pendidikan
7 Komentar untuk "Metropolitan lawan Daerah terpencil dalam UN"

Menarik sekali infonya gan, di daerah ane jg daerah yang minim fasilitas cuma tidak ada cara lain selain mengusahakan sendiri yang namanya pengetahuan teknologi, kalo nunggu pemerintah, kapan pintarnya kita gan :)

nice info sob...jangan lupa komentar balik di blogku ya

kalo menurut logika pasti menang metropolitan gan

Menurut saya gan pemerintah memeratakan saja fasilitas pendidikan, kan jadinya seimbang tuh

ganti UN dengan Ujian yang lebih berkeadilan dan manusiawi...dan janganlah buat penentu kelulusan karena sifat ujian hanyalah untuk evaluasi.

membalas komentar he he. Seharusnya memang kelulusan dikembalikan 100% ke pendidik dalam hal ini sekolah. jangan sampai fungsi sekolah hanya sebagai tempat belajar saja karena hak dan kewajiban meluluskan dicampuri pihak luar.

Namanya aja standarisasi, tp semua blm dibikin standar mulai dari fasilitas sampe kinerja itu sendiri. alangkah baiknya UN ini ditiadakan saja, dan anggarannya dialihkan ke peningkatan kinerja guru serta fasilitas sekolah termasuk sekolah yg berada di daerah terpencil.

Dunia pendidikan kita dibutakan oleh angka, sehingga kita selalu ingin meraih angka (kelulusan) setinggi mungkin dengan berbagai cara, baik itu dr siswa maupun sekolah.

Visit and comment back ya Pak; follow and sekalian tukaran link dg blog sy..

Terima kasih
Rino Safrizal
Pontianak : Kal-Bar

Back To Top