Demi Kesehatan dan Menyumbang

 Tulisan ini saya tulis di kompasiana kamis 26 Mei 2011,  lomba menulis blog 24 jam dalam rangka untuk memperingati hari ulang tahun Telkomsel yang ke 16. Tapi tulisan yang ada disini sudah saya perbaharui lagi

Jika mendengar merokok semua orang  memiliki pandangan yang lain-lain dari mulai kesehatan, ekonomi, kenikmatan, kecanduan dan lain-lain. Rokok merupakan hal yang wajar bagi sebagian orang, tapi bagi orang yang tidak merokok akan merasa terganggu.  Merokok sekarang ini sudah tidak mengenal umur dari mulai anak sekolah sampai orang tua, dan tidak mengenal status sosial kaya atau miskin. Merokok jika dilihat dari sudut kesehatan banyak sekali dampak negatifnya, jika saya baca dibungkus rokok ada tulisan merokok dapat menyebabkan impotensi, kegugururan jika ibu hamil, hipertensi, jantung dan lain-lain.


Nah jika dilihat dari sudut kesehatan saja tidak ada manfaatnya, apalagi jika ditinjau dari segi ekonomi. Dalam satu hari anggap saja merokok habis 1 bungkus, maka dalam waktu  1 bulan menghabiskan rokok sebanyak 30 bungkus. Andaikan saja 1 bungkus rokok harganya Rp 10.000,- maka dalam waktu sebulan akan menghabiskan biaya untuk rokok sebesar Rp 300.000,- angka tersebut termasuk besar menurut saya.
Andaikan saja kita 1 bulan bisa menyumbang Rp300.00, untuk pendidikan atau yang lain itu lebih bermanfaat lainnya .Seandainya kita kumpulka selama 1 tahun maka akan terkumpul Rp3.600,000,-

Indonesia memiliki jumlah penduduk  sekitar 237,6  juta  jiwa data dari media Indonesia,  dari jumlah tersebut  taksiran yang merokok aktif sekitar 60 juta perokok atau 28 % per penduduk sumber nusantara ku. Jumlah tersebut termasuk masuk dalam kategori 3 besar didunia setelah Cina dan India. Andaikan saja penduduk Indonesia yang merokok tadi, berhenti merokok sebanyak 1 juta orang dan uangnya yang Rp 300.000,- tiap bulan untuk beli rokok dan disumbangkan maka dalam waktu 1 tahun akan menghasilkan uang yang sangat fantastik. Perhitungannya Rp 360.000 x 1000.000 jiwa = 3,6 trillyun jumlah yang sangat besar sekali.

Sementara penduduk Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan, sering terjadi bencana alam, pendidikan tidak merata, biaya kesehatan sangat tinggi. Andaikan uang tadi disumbangkan dan dikelola dengan baik maka akan mengurangi beban pendidikan, menekan kemiskinan, biaya kesehatan bisa ditekan masalah bencana alam bisa disumbang dan sebagainya.

Andaikan anda mengelola sendiri maka dana tersebut bisa untuk jadi bapak asuh siswa sekolah, menyumbang panti asuhan, meringankan fakir miskin ( dalam hal ini memberi pancingan untuk berkreasi), atau menyumbang tetangga yang memerlukan biaya kesehatan dll. Jadi tidak harus dikelola oleh instasi yang berkompeten.

Memang berhenti merokok bukan hal yang mudah, memerlukan kesabaran. Kata perokok mendingan tidak makan dari pada tidak merokok. Wah jika motto sudah seperti itu sudah repot sekali. Paling tidak ini untuk kesehatan kita, kesehatan anak, istri kawan dll.

4 komentar:

  1. diperlukan niat yang kuat untuk berhenti merokok

    BalasHapus
  2. @rumput dan ilalang : setuju gan jika cuma angin-anginan gak akan bisa melepas kebiasaaan merokok

    BalasHapus
  3. Wah .. bagaimana ini, dilema juga yah ..., sementara pita cukai rokok tersebut juga ikut menyumbang pendapatan negara dari sektor non-migas, trus kalau tidak ada yang merokok berarti sumbangan ke negara hilang dong, disamping itu buruh pabrik rokok akan kehilangan pekerjaannya, tambah lagi jumlah penganguran .... bagaimana ini ?

    BalasHapus
  4. @WONG JAWA: tapi gimana akibatnya anak-anak pelajar sudah bisa merokok, secara gak langsung membunuh masyarakat pelan-pelan. kan gak mungkin pemerintah kehilangan pendapatan dari cukai, semuai dimulai dari diri kita sendiri

    BalasHapus

Membuat perangkat USB bootable dengan mudah

Rufus adalah alat yang membantu untuk memformat dan membuat perangkat USB flash menjadi bootable, seperti flashdisk, kartu memori, dll. Rufu...